Halo, para pembaca yang mengira misi kedua itu biasa-biasa saja!
Sebelum kita mulai, saya punya pertanyaan jujur:
“Ada yang masih ingat nama astronot Apollo 12 di luar kepala Anda?”
Jujur saja. Kebanyakan orang bisa menyebut Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins dari Apollo 11. Lalu mungkin Jim Lovell dari Apollo 13 yang dramatis itu.
Tapi Apollo 12? Banyak yang lupa. Bahkan kadang disebut “misi yang membosankan” karena semuanya berjalan lancar.
ECEH. ECEH. ECEH. Tunggu dulu.
Bayangkan ini: Anda baru selesai mengantar teman Anda menjadi manusia pertama di Bulan. Kini giliran Anda. Roket menyala. Langit mendung. Anda naik ke angkasa… lalu 36 detik kemudian—BLAARR! Petir menyambar roket Anda!
Lampu berkedip. Alarm berbunyi. Komputer mati.
Dan Anda berada 5 km di atas Bumi dengan roket yang terus melesat.
Itulah Apollo 12. Misi yang nyaris berakhir sebelum dimulai. Tapi justru karena itulah, misi ini mengukir sejarah dengan caranya sendiri.
Siap untuk cerita yang (seharusnya) lebih terkenal? Mari mulai!
14 November 1969 Pagi yang Sepi, Langit yang Mendung
Tiga bulan setelah Apollo 11 mengguncang dunia, perhatian publik sedikit mereda. Tidak ada parade besar kali ini. Tidak ada pidato presiden yang mendebarkan.
Tapi bagi Charlie “Pete” Conrad, Dick Gordon, dan Alan Bean—misi ini adalah kesempatan seumur hidup.
- Pete Conrad (Komandan, 39 tahun) — Pria pendek (hanya 168 cm) dengan energi sebesar Saturn V. Veteran Gemini 5 dan 11. Orangnya jenaka sampai ke tulang.
- Dick Gordon (Pilot Modul Komando, 40 tahun) — Penerbang uji Angkatan Laut yang tenang. Juga veteran Gemini 11 bersama Conrad.
- Alan Bean (Pilot Modul Bulan, 37 tahun) — Pendatang baru. Mantan pilot uji Angkatan Laut. Kalem di luar, tapi dalam hati berdebar.
Mereka adalah kru Angkatan Laut murni—tiga-tiganya dari US Navy. Dan itu terasa dalam gaya komunikasi mereka: santai, humoris, dan tidak mudah panik.
Hari peluncuran: 14 November 1969, pukul 11:22 pagi.
Cuaca: Mendung. Gerimis. Ada badai di sekitar Cape Kennedy.
Pertanyaan besar: Apakah NASA harus menunda?
Keputusan diambil: LANJUTKAN. Badai tidak tepat di atas landasan. Seharusnya aman.
“Seharusnya.”
36 Detik yang Mengubah Segalanya
Roket Saturn V meluncur dengan sempurna. Masuk ke awan tebal.
Tepat 36 detik setelah lepas landas…
BLAARR! Seberkas cahaya menyilaukan memenuhi kabin. Alarm berbunyi di mana-mana.
Dick Gordon berteriak: “What the hell was that?!” (Apa-apaan itu?!)
Belum semuatimereka sadar apa yang terjadi—16 detik kemudian…
BLAARR LAGI! Petir kedua menyambar roket yang sama.
Kali ini lebih parah. Semua lampu di kabin padam. Komputer mati. Sistem navigasi hilang. Mereka berada dalam kegelapan total di dalam roket yang masih melesat naik.
Pete Conrad, tetap tenang (luar biasa tenang), melaporkan: “Okay, we just lost the platform, gang. I don’t know what happened here. We had everything in the world drop out.”
Di ruang kendali Houston, semua orang panik. Tim melihat data yang kacau balau. Opsi aborsi misi sudah dipertimbangkan—menyuruh kru meledakkan roket dan melompat keluar dengan parasut.
Tapi jika itu dilakukan… misi berakhir. Ratusan juta dolar melayang. Dan mungkin program Apollo terganggu.
John Aaron, 24 Tahun, dan “SCE to AUX”
Di tengah kekacauan itu, seorang insinyur muda bernama John Aaron—baru berusia 24 tahun—duduk di depan layar telemetri.
Dia melihat data aneh dan mengingat sesuatu.
Setahun sebelumnya, dalam simulasi yang hampir tidak diingat siapa pun, Aaron melihat pola telemetri serupa. Saat itu, solusinya adalah mengalihkan sistem Signal Conditioning Equipment (SCE) ke mode AUX (cadangan).
Dengan suara datar, dia berkata ke Flight Director:
Flight Director (Gerald Griffin): “What the hell is that?”
CapCom di ruang kendali (yang bicara langsung ke astronot): “Say again, John?”
Aaron mengulang: “SCE to AUX.”
Di dalam kabin yang gelap, perintah itu terdengar asing. Conrad menjawab: “What the hell is that?” (Ya, mereka bertiga sama-sama bingung.)
Tapi Alan Bean—entah karena ingatan atau keberuntungan—tahu persis di mana sakelar SCE berada. Di panel samping, posisi paling tidak mencolok. Dia menjangkau dan membalikkannya.
Hidup.
Layar di ruang kendali kembali normal. Lampu di kabin menyala. Komputer reboot secara perlahan. Satu per satu, alarm berhenti berbunyi.
Conrad, dengan nada lega bercampur kagum: “I think we need to do a little more all-weather testing!”
NASA kemudian menyelidiki insiden ini. Kesimpulan: Petir menyambar roket karena roket itu sendiri menciptakan jalur konduktif di atmosfer bermuatan. Sebelum Apollo 12, tidak ada yang menganggap petir bisa menyambar roket yang sedang meluncur.
Pelajaran: Setelah ini, NASA melarang peluncuran jika ada awan badai di radius tertentu. Aturan itu masih berlaku hingga era pesawat ulang-alik.
Dan John Aaron? Dia mendapat julukan tertinggi di NASA: “steely-eyed missile man” —pria bermata baja. Beberapa bulan kemudian, dia akan menyelamatkan Apollo 13 juga.
Bukan kebetulan. Itu kejeniusan.
19 November 1969 “Pete’s Parking Lot”
Setelah insiden petir, perjalanan ke Bulan berlangsung mulus. Apollo 12 memasuki orbit Bulan pada 18 November.
Keistimewaan Apollo 12: Mereka tidak asal mendarat. Mereka punya target spesifik.
Surveyor 3 Robot NASA yang Sudah 2,5 Tahun di Bulan
Pada April 1967 (2,5 tahun sebelumnya), NASA mendaratkan robot pendarat Surveyor 3 di Ocean of Storms. Robot itu masih utuh—dan NASA ingin astronot berjalan mendekatinya, mengambil bagian-bagiannya, dan membawanya pulang untuk dipelajari.
Target pendaratan Apollo 12: Dalam jarak berjalan kaki dari Surveyor 3.
Tantangan: Apollo 11 meleset 6,5 km dari target. Kali ini, NASA harus jauh lebih presisi.
Conrad, dengan gaya khasnya, menamai target itu “Pete’s Parking Lot”.
Tanggal 19 November 1969. Conrad dan Bean masuk ke LM Intrepid, berpisah dari Dick Gordon yang tetap mengorbit di Yankee Clipper.
Intrepid turun. Bantuan komputer sebagian besar mengendalikan pendaratan—Conrad hanya mengambil alih di detik-detik akhir untuk menghindari kawah.
Pendaratan: Hanya 180 METER dari Surveyor 3.
Itu setara jarak lapangan sepak bola. Presisi luar biasa untuk tahun 1969, tanpa GPS, mengandalkan radar dan perhitungan manual.
Conrad melaporkan dengan nada santai: “Houston, the Intrepid has landed. And I can see Surveyor from my window.”
Houston (lega): “Copy, Intrepid. Nice parking.”
Tingkat akurasi: Elips pendaratan Apollo 12 hanya 1 km (jauh lebih kecil dari Apollo 11 yang 3,69 mil). Dan kesalahan aktualnya hanya 180 meter. Ini adalah lompatan teknologi navigasi yang sangat besar.
19-20 November 1969 (Dua Hari di Bulan)
EVA 1 “Whoopie! That’s a long one for me!”
Conrad turun dari tangga Intrepid terlebih dahulu.
Dia menginjak debu Bulan dan—sesuai janjinya kepada seorang jurnalis wanita yang bertaruh $500—berkata:
“Whoopie! Man, that may have been a small one for Neil, but that’s a long one for me!”
Terjemahan: “Itu mungkin langkah kecil buat Neil, tapi buat saya yang pendek, ini langkah yang panjang!”
Conrad tahu dia orangnya pendek (168 cm). Dan dia tidak malu bercanda tentang itu—bahkan di Bulan. Itulah pesona Pete Conrad.
Bean menyusul. Mereka berdua menjadi manusia ketiga dan keempat di Bulan.
Aktivitas EVA pertama (~4 jam):
- Memasang ALSEP (Apollo Lunar Surface Experiments Package)—perangkat sains yang akan mengirim data ke Bumi hingga 1977.
- Memasang seismometer, magnetometer, dan detektor angin matahari.
- Mengambil sampel batu dan tanah.
Sayangnya, ada satu kegagalan kecil: Bean membawa kamera televisi berwarna pertama ke Bulan. Saat memasangnya, dia mengarahkan lensa ke Matahari—dan kamera itu mati total.
Jadi siaran TV dari Bulan kali ini hanya berlangsung beberapa menit. Tapi untungnya, rekaman suara tetap ada.
EVA 2 Menyapa Robot Tua
Hari berikutnya, Conrad dan Bean berjalan ke Surveyor 3. Jaraknya 180 meter—sekitar 2-3 menit berjalan di Bumi, tapi di Bulan dengan baju luar angkasa seberat 80 kg, memakan waktu lebih lama.
Mereka menemukan Surveyor 3 dalam kondisi unik:
- Permukaannya berwarna cokelat keemasan karena debu Bulan.
- Tapi bagian yang kena semburan mesin Intredef saat mendarat—terlihat putih bersih, seperti baru keluar dari pabrik.
Conrad bercanda: “Kita nggak sengaja nyuci robot ini.”
Mereka memotong beberapa bagian Surveyor 3, termasuk kamera TV-nya, untuk dibawa pulang ke Bumi.
Total sampel yang dikumpulkan: 75 pon (34 kg) batuan Bulan dan komponen Surveyor.
Misteri Bakteri dari Bulan (Apakah Alien?!)
Ini bagian paling kontroversial dari misi Apollo 12.
Saat para ilmuwan meneliti kamera Surveyor 3 yang dibawa pulang, mereka menemukan sesuatu yang mencengangkan: Bakteri hidup Streptococcus mitis di dalam kamera.
“Apa? Bakteri dari Bulan? Kehidupan di luar Bumi?”
Media heboh. Publik bertanya-tanya.
Penjelasan awal NASA: Mungkin bakteri itu sudah ada di Surveyor 3 sebelum diluncurkan ke Bulan pada 1967—dan bertahan hidup di permukaan Bulan selama 2,5 tahun, lalu kembali ke Bumi. Itu akan membuktikan bahwa mikroba bisa bertahan di luar angkasa.
Tapi setelah diselidiki lebih lanjut, NASA mengubah penjelasannya: Kemungkinan besar, kamera itu terkontaminasi setelah kembali ke Bumi—saat para teknisi memeriksanya dengan tangan telanjang dan prosedur sterilisasi yang longgar.
Kesimpulan: Bukan alien. Tapi cerita ini tetap menjadi legenda di kalangan penggemar antariksa.
24 November 1969, Pulang ke Rumah
Setelah 31,6 jam di Bulan (dua kali lipat Apollo 11), Conrad dan Bean naik kembali ke Intrepid dan lepas landas dari Bulan.
Mereka bertemu dengan Dick Gordon di orbit. Docking sukses.
Perjalanan pulang: Lancar. Kali ini tidak ada petir.
Splashdown di Pasifik: Tepat sasaran. Kapal induk USS Hornet menjemput mereka.
Satu kejadian lucu di akhir: Saat splashdown, kamera film jatuh dan mengenai kepala Alan Bean—membuatnya pingsan sebentar dan mengalami gegar otak ringan.
Setelah perjalanan 400.000 km ke Bulan dan kembali dengan selamat, kamera itulah yang hampir melukainya. Ironi, ya?
Mengapa Apollo 12 Penting?
Sekarang, saya ajak Anda refleksi sejenak.
Apollo 12 mungkin tidak sepopuler Apollo 11. Tapi tanpa Apollo 12, semua misi Apollo berikutnya tidak akan pernah terjadi.
Membuktikan Bahwa Pendaratan di Bulan BUKAN Kebetulan
Banyak orang—termasuk di kalangan ilmuwan—bertanya setelah Apollo 11: “Apakah mereka beruntung? Atau memang bisa diulang?”
Apollo 12 menjawab dengan tegas: Bisa diulang. Dan lebih presisi lagi. Dari meleset 6,5 km menjadi hanya 180 meter. Itu lompatan teknologi yang luar biasa.
Menyelamatkan NASA dari “Keberuntungan Semata”
Jika Apollo 12 gagal, publik akan kecewa. Kongres akan menarik dana. Dan Neil Armstrong mungkin akan dikenang sebagai “keberuntungan satu kali”.
Tapi Apollo 12 berhasil. Program Apollo terbukti bisa diandalkan. Dan pendaratan di Bulan menjadi sesuatu yang “rutin”—setidaknya bagi para insinyur NASA.
Mengajarkan NASA (dan Kita) tentang Ketenangan dalam Krisis
Insiden petir Apollo 12 adalah uji nyali paling ekstrem setelah Apollo 1. Roket tersambar petir, komputer mati, alarm berbunyi—tapi kru tetap tenang. John Aaron, 24 tahun, mengingat satu prosedur dari setahun lalu yang menyelamatkan misi.
Pelajaran: Latihan yang baik, bahkan yang tampaknya tidak penting, bisa menjadi penentu di saat krisis.
Pete Conrad, Alan Bean, dan Dick Gordon adalah tipe astronot yang berbeda. Mereka tidak mencari ketenaran abadi. Mereka tidak mengharapkan parade.
Mereka hanya ingin menikmati perjalanan—dan membuat orang tertawa di sepanjang jalan.
Dari “Whoopie! That’s a long one for me” hingga “Pete’s Parking Lot” dan kekecewaan karena kamera TV rusak—semua itu membuat Apollo 12 begitu manusiawi.
Dan mungkin, justru di situlah kebesaran eksplorasi antariksa: bukan hanya tentang rekor dan statistik, tapi juga tentang tawa, lelucon, dan keberanian untuk tetap santai saat petir menyambar roket Anda.
Kepada Pete Conrad (1930-1999): Terima kasih telah mengajarkan kita bahwa menjadi “pendek” tidak menghalangi seseorang untuk berdiri di Bulan—dan tetap bercanda di sana.