{"id":44,"date":"2026-04-30T15:55:57","date_gmt":"2026-04-30T15:55:57","guid":{"rendered":"https:\/\/nasasolutions.com\/?p=44"},"modified":"2026-04-30T15:55:57","modified_gmt":"2026-04-30T15:55:57","slug":"misi-kedua-ke-bulan-dengan-presisi-pendaratan-yang-lebih-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nasasolutions.com\/?p=44","title":{"rendered":"Misi Kedua ke Bulan dengan Presisi Pendaratan yang Lebih Tinggi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Halo, para pembaca yang mengira misi kedua itu biasa-biasa saja!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum kita mulai, saya punya pertanyaan jujur:<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Ada yang masih ingat nama astronot Apollo 12 di luar kepala Anda?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jujur saja. Kebanyakan orang bisa menyebut Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins dari Apollo 11. Lalu mungkin Jim Lovell dari Apollo 13 yang dramatis itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tapi Apollo 12?<\/strong>&nbsp;Banyak yang lupa. Bahkan kadang disebut &#8220;misi yang membosankan&#8221; karena semuanya berjalan lancar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>ECEH. ECEH. ECEH.<\/strong>&nbsp;Tunggu dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangkan ini: Anda baru selesai mengantar teman Anda menjadi manusia pertama di Bulan. Kini giliran Anda. Roket menyala. Langit mendung. Anda naik ke angkasa&#8230;&nbsp;<strong>lalu 36 detik kemudian\u2014BLAARR! Petir menyambar roket Anda!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lampu berkedip. Alarm berbunyi. Komputer mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan Anda berada 5 km di atas Bumi dengan roket yang terus melesat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Itulah Apollo 12.<\/em>&nbsp;Misi yang nyaris berakhir sebelum dimulai. Tapi justru karena itulah, misi ini mengukir sejarah dengan caranya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Siap untuk cerita yang (seharusnya) lebih terkenal? Mari mulai!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>14 November 1969 Pagi yang Sepi, Langit yang Mendung<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tiga bulan setelah Apollo 11 mengguncang dunia, perhatian publik sedikit mereda. Tidak ada parade besar kali ini. Tidak ada pidato presiden yang mendebarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi bagi&nbsp;<strong>Charlie &#8220;Pete&#8221; Conrad, Dick Gordon, dan Alan Bean<\/strong>\u2014misi ini adalah&nbsp;<strong>kesempatan seumur hidup<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pete Conrad<\/strong>\u00a0(Komandan, 39 tahun) \u2014 Pria pendek (hanya 168 cm) dengan energi sebesar Saturn V. Veteran Gemini 5 dan 11. Orangnya jenaka sampai ke tulang.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Dick Gordon<\/strong>\u00a0(Pilot Modul Komando, 40 tahun) \u2014 Penerbang uji Angkatan Laut yang tenang. Juga veteran Gemini 11 bersama Conrad.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Alan Bean<\/strong>\u00a0(Pilot Modul Bulan, 37 tahun) \u2014 Pendatang baru. Mantan pilot uji Angkatan Laut. Kalem di luar, tapi dalam hati berdebar.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Mereka adalah kru Angkatan Laut murni<\/strong>\u2014tiga-tiganya dari US Navy. Dan itu terasa dalam gaya komunikasi mereka: santai, humoris, dan tidak mudah panik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari peluncuran:<\/strong>\u00a014 November 1969, pukul 11:22 pagi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cuaca:<\/strong>&nbsp;Mendung. Gerimis. Ada badai di sekitar Cape Kennedy.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertanyaan besar:<\/strong>&nbsp;Apakah NASA harus menunda?<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan diambil:&nbsp;<strong>LANJUTKAN.<\/strong>&nbsp;Badai tidak tepat di atas landasan. Seharusnya aman.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8220;Seharusnya.&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>36 Detik yang Mengubah Segalanya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Roket Saturn V meluncur dengan sempurna. Masuk ke awan tebal.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tepat 36 detik setelah lepas landas&#8230;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BLAARR!<\/strong>&nbsp;Seberkas cahaya menyilaukan memenuhi kabin. Alarm berbunyi di mana-mana.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dick Gordon berteriak:<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;What the hell was that?!&#8221;<\/em>&nbsp;(Apa-apaan itu?!)&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.universetoday.com\/articles\/this-day-in-space-history-apollo-12-and-sce-to-aux\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Belum semuatimereka sadar apa yang terjadi\u201416 detik kemudian\u2026<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BLAARR LAGI!<\/strong>\u00a0Petir kedua menyambar roket yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Kali ini lebih parah.&nbsp;<strong>Semua lampu di kabin padam.<\/strong>&nbsp;Komputer mati. Sistem navigasi hilang.&nbsp;<strong>Mereka berada dalam kegelapan total di dalam roket yang masih melesat naik.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pete Conrad, tetap tenang (luar biasa tenang), melaporkan:<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;Okay, we just lost the platform, gang. I don&#8217;t know what happened here. We had everything in the world drop out.&#8221;<\/em>&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.universetoday.com\/articles\/this-day-in-space-history-apollo-12-and-sce-to-aux\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di ruang kendali Houston, semua orang panik. Tim melihat data yang kacau balau.&nbsp;<strong>Opsi aborsi misi<\/strong>&nbsp;sudah dipertimbangkan\u2014menyuruh kru meledakkan roket dan melompat keluar dengan parasut.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi jika itu dilakukan&#8230; misi berakhir. Ratusan juta dolar melayang. Dan mungkin program Apollo terganggu.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>John Aaron, 24 Tahun, dan &#8220;SCE to AUX&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah kekacauan itu, seorang insinyur muda bernama\u00a0<strong>John Aaron<\/strong>\u2014baru berusia\u00a0<strong>24 tahun<\/strong>\u2014duduk di depan layar telemetri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia melihat data aneh dan&nbsp;<strong>mengingat sesuatu<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Setahun sebelumnya<\/strong>, dalam simulasi yang hampir tidak diingat siapa pun, Aaron melihat pola telemetri serupa. Saat itu, solusinya adalah mengalihkan sistem&nbsp;<strong>Signal Conditioning Equipment (SCE)<\/strong>&nbsp;ke mode&nbsp;<strong>AUX<\/strong>&nbsp;(cadangan).<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan suara datar, dia berkata ke Flight Director:<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Flight, try SCE to &#8216;AUX&#8217;.&#8221;<\/em>&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.universetoday.com\/articles\/this-day-in-space-history-apollo-12-and-sce-to-aux\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Flight Director (Gerald Griffin):<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;What the hell is that?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>CapCom di ruang kendali (yang bicara langsung ke astronot):<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;Say again, John?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aaron mengulang:<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;SCE to AUX.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam kabin yang gelap, perintah itu terdengar asing.\u00a0<strong>Conrad menjawab:<\/strong>\u00a0<em>&#8220;What the hell is that?&#8221;<\/em> (Ya, mereka bertiga sama-sama bingung.)<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi&nbsp;<strong>Alan Bean<\/strong>\u2014entah karena ingatan atau keberuntungan\u2014tahu persis di mana sakelar SCE berada. Di panel samping, posisi paling tidak mencolok.&nbsp;<strong>Dia menjangkau dan membalikkannya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hidup.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Layar di ruang kendali kembali normal. Lampu di kabin menyala. Komputer reboot secara perlahan.\u00a0<strong>Satu per satu, alarm berhenti berbunyi.<\/strong><a href=\"https:\/\/www.universetoday.com\/articles\/this-day-in-space-history-apollo-12-and-sce-to-aux\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Conrad, dengan nada lega bercampur kagum:<\/strong>\u00a0<em>&#8220;I think we need to do a little more all-weather testing!&#8221;<\/em><a href=\"https:\/\/www.universetoday.com\/articles\/this-day-in-space-history-apollo-12-and-sce-to-aux\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>NASA kemudian menyelidiki insiden ini. Kesimpulan:\u00a0<strong>Petir menyambar roket karena roket itu sendiri menciptakan jalur konduktif di atmosfer bermuatan.<\/strong>\u00a0Sebelum Apollo 12, tidak ada yang menganggap petir bisa menyambar roket yang sedang meluncur.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pelajaran:<\/strong>\u00a0Setelah ini, NASA melarang peluncuran jika ada awan badai di radius tertentu. Aturan itu masih berlaku hingga era pesawat ulang-alik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan\u00a0<strong>John Aaron<\/strong>? Dia mendapat julukan tertinggi di NASA:\u00a0<strong>&#8220;steely-eyed missile man&#8221;<\/strong>\u00a0\u2014pria bermata baja. Beberapa bulan kemudian, dia akan menyelamatkan Apollo 13 juga.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Bukan kebetulan. Itu kejeniusan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>19 November 1969 &#8220;Pete&#8217;s Parking Lot&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah insiden petir, perjalanan ke Bulan berlangsung mulus. Apollo 12 memasuki orbit Bulan pada 18 November.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keistimewaan Apollo 12:<\/strong>&nbsp;Mereka tidak asal mendarat.&nbsp;<strong>Mereka punya target spesifik.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>Surveyor 3 Robot NASA yang Sudah 2,5 Tahun di Bulan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada April 1967 (2,5 tahun sebelumnya), NASA mendaratkan robot pendarat\u00a0<em>Surveyor 3<\/em>\u00a0di Ocean of Storms. Robot itu masih utuh\u2014dan NASA ingin astronot\u00a0<strong>berjalan mendekatinya<\/strong>, mengambil bagian-bagiannya, dan membawanya pulang untuk dipelajari.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Target pendaratan Apollo 12:<\/strong>&nbsp;Dalam jarak berjalan kaki dari Surveyor 3.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan:<\/strong>\u00a0Apollo 11 meleset 6,5 km dari target. Kali ini, NASA harus\u00a0<strong>jauh lebih presisi<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Conrad, dengan gaya khasnya, menamai target itu\u00a0<strong>&#8220;Pete&#8217;s Parking Lot&#8221;<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tanggal 19 November 1969.<\/strong>\u00a0Conrad dan Bean masuk ke LM\u00a0<em>Intrepid<\/em>, berpisah dari Dick Gordon yang tetap mengorbit di\u00a0<em>Yankee Clipper<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Intrepid<\/em>&nbsp;turun.&nbsp;<strong>Bantuan komputer<\/strong>&nbsp;sebagian besar mengendalikan pendaratan\u2014Conrad hanya mengambil alih di detik-detik akhir untuk menghindari kawah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pendaratan:<\/strong>\u00a0<strong>Hanya 180 METER dari Surveyor 3.<\/strong><a href=\"https:\/\/www.astronomy.com\/space-exploration\/apollo-12-in-3d\/?_rt=OTQ5fDgwfG1lZXQgdGhlIG5lYnVsYXwxNzMwNDMyMjY4&amp;_rt_nonce=ab3dd8c164\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Itu setara jarak lapangan sepak bola.&nbsp;<strong>Presisi luar biasa<\/strong>&nbsp;untuk tahun 1969, tanpa GPS, mengandalkan radar dan perhitungan manual.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Conrad melaporkan dengan nada santai:<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;Houston, the Intrepid has landed. And I can see Surveyor from my window.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Houston (lega):<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;Copy, Intrepid. Nice parking.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tingkat akurasi:<\/strong>\u00a0Elips pendaratan Apollo 12 hanya\u00a0<strong>1 km<\/strong>\u00a0(jauh lebih kecil dari Apollo 11 yang 3,69 mil). Dan kesalahan aktualnya hanya 180 meter. Ini adalah\u00a0<strong>lompatan teknologi navigasi<\/strong>\u00a0yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>19-20 November 1969 (Dua Hari di Bulan<\/strong>)<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>EVA 1 &#8220;Whoopie! That&#8217;s a long one for me!&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Conrad turun dari tangga&nbsp;<em>Intrepid<\/em>&nbsp;terlebih dahulu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dia menginjak debu Bulan dan\u2014sesuai janjinya kepada seorang jurnalis wanita yang bertaruh $500\u2014berkata:<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Whoopie! Man, that may have been a small one for Neil, but that&#8217;s a long one for me!&#8221;<\/em><a href=\"https:\/\/www.astronomy.com\/space-exploration\/apollo-12-in-3d\/?_rt=OTQ5fDgwfG1lZXQgdGhlIG5lYnVsYXwxNzMwNDMyMjY4&amp;_rt_nonce=ab3dd8c164\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Terjemahan:<\/strong>&nbsp;&#8220;Itu mungkin langkah kecil buat Neil, tapi buat saya yang pendek, ini langkah yang panjang!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Conrad tahu dia orangnya pendek (168 cm).<\/strong>\u00a0Dan dia tidak malu bercanda tentang itu\u2014bahkan di Bulan. Itulah pesona Pete Conrad.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bean menyusul.<\/strong>\u00a0Mereka berdua menjadi manusia ketiga dan keempat di Bulan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aktivitas EVA pertama (~4 jam):<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Memasang\u00a0<strong>ALSEP<\/strong>\u00a0(Apollo Lunar Surface Experiments Package)\u2014perangkat sains yang akan mengirim data ke Bumi hingga 1977.<\/li>\n\n\n\n<li>Memasang seismometer, magnetometer, dan detektor angin matahari.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengambil sampel batu dan tanah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Sayangnya, ada satu kegagalan kecil:<\/strong>\u00a0Bean membawa kamera televisi berwarna pertama ke Bulan. Saat memasangnya, dia mengarahkan lensa ke Matahari\u2014<strong>dan kamera itu mati total.<\/strong><a href=\"https:\/\/www.astronomy.com\/space-exploration\/apollo-12-in-3d\/?_rt=OTQ5fDgwfG1lZXQgdGhlIG5lYnVsYXwxNzMwNDMyMjY4&amp;_rt_nonce=ab3dd8c164\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Jadi siaran TV dari Bulan kali ini hanya berlangsung beberapa menit.&nbsp;<strong>Tapi untungnya, rekaman suara tetap ada.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>EVA 2 Menyapa Robot Tua<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari berikutnya, Conrad dan Bean berjalan ke Surveyor 3.<\/strong>&nbsp;Jaraknya 180 meter\u2014sekitar 2-3 menit berjalan di Bumi, tapi di Bulan dengan baju luar angkasa seberat 80 kg, memakan waktu lebih lama.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mereka menemukan Surveyor 3 dalam kondisi unik:<\/strong><a href=\"https:\/\/www.astronomy.com\/space-exploration\/apollo-12-in-3d\/?_rt=OTQ5fDgwfG1lZXQgdGhlIG5lYnVsYXwxNzMwNDMyMjY4&amp;_rt_nonce=ab3dd8c164\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Permukaannya berwarna cokelat keemasan karena debu Bulan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi bagian yang kena semburan mesin\u00a0<em>Intredef<\/em>\u00a0saat mendarat\u2014<strong>terlihat putih bersih<\/strong>, seperti baru keluar dari pabrik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Conrad bercanda:<\/strong>&nbsp;<em>&#8220;Kita nggak sengaja nyuci robot ini.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mereka memotong beberapa bagian Surveyor 3<\/strong>, termasuk kamera TV-nya, untuk dibawa pulang ke Bumi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Total sampel yang dikumpulkan:<\/strong>\u00a0<strong>75 pon (34 kg)<\/strong>\u00a0batuan Bulan dan komponen Surveyor.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>Misteri Bakteri dari Bulan (Apakah Alien?!)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ini bagian paling kontroversial dari misi Apollo 12.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saat para ilmuwan meneliti kamera Surveyor 3 yang dibawa pulang, mereka menemukan sesuatu yang\u00a0<strong>mencengangkan<\/strong>:\u00a0<strong>Bakteri hidup\u00a0<em>Streptococcus mitis<\/em><\/strong>\u00a0di dalam kamera.<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Apa? Bakteri dari Bulan? Kehidupan di luar Bumi?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Media heboh. Publik bertanya-tanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan awal NASA:<\/strong>&nbsp;Mungkin bakteri itu sudah ada di Surveyor 3 sebelum diluncurkan ke Bulan pada 1967\u2014dan&nbsp;<strong>bertahan hidup<\/strong>&nbsp;di permukaan Bulan selama 2,5 tahun, lalu kembali ke Bumi. Itu akan membuktikan bahwa mikroba bisa bertahan di luar angkasa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tapi setelah diselidiki lebih lanjut,<\/strong>\u00a0NASA mengubah penjelasannya: Kemungkinan besar, kamera itu\u00a0<strong>terkontaminasi setelah kembali ke Bumi<\/strong>\u2014saat para teknisi memeriksanya dengan tangan telanjang dan prosedur sterilisasi yang longgar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kesimpulan:<\/strong>&nbsp;Bukan alien. Tapi cerita ini tetap menjadi legenda di kalangan penggemar antariksa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:30px\"><strong>24 November 1969, Pulang ke Rumah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah\u00a0<strong>31,6 jam di Bulan<\/strong>\u00a0(dua kali lipat Apollo 11), Conrad dan Bean naik kembali ke\u00a0<em>Intrepid<\/em>\u00a0dan lepas landas dari Bulan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mereka bertemu dengan Dick Gordon di orbit.<\/strong>&nbsp;Docking sukses.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perjalanan pulang:<\/strong>&nbsp;Lancar. Kali ini tidak ada petir.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Splashdown di Pasifik:<\/strong>\u00a0Tepat sasaran. Kapal induk\u00a0<em>USS Hornet<\/em>\u00a0menjemput mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Satu kejadian lucu di akhir:<\/strong>\u00a0Saat splashdown, kamera film jatuh dan mengenai kepala Alan Bean\u2014<strong>membuatnya pingsan sebentar dan mengalami gegar otak ringan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah perjalanan 400.000 km ke Bulan dan kembali dengan selamat,&nbsp;<strong>kamera itulah yang hampir melukainya.<\/strong>&nbsp;Ironi, ya?<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>Mengapa Apollo 12 Penting?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sekarang, saya ajak Anda refleksi sejenak.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Apollo 12 mungkin tidak sepopuler Apollo 11. Tapi tanpa Apollo 12,&nbsp;<strong>semua misi Apollo berikutnya tidak akan pernah terjadi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>Membuktikan Bahwa Pendaratan di Bulan BUKAN Kebetulan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang\u2014termasuk di kalangan ilmuwan\u2014bertanya setelah Apollo 11:&nbsp;<em>&#8220;Apakah mereka beruntung? Atau memang bisa diulang?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Apollo 12 menjawab dengan tegas:\u00a0<strong>Bisa diulang. Dan lebih presisi lagi.<\/strong>\u00a0Dari meleset 6,5 km menjadi hanya 180 meter. Itu lompatan teknologi yang luar biasa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>Menyelamatkan NASA dari &#8220;Keberuntungan Semata&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika Apollo 12 gagal, publik akan kecewa. Kongres akan menarik dana. Dan Neil Armstrong mungkin akan dikenang sebagai &#8220;keberuntungan satu kali&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tapi Apollo 12 berhasil.<\/strong>&nbsp;Program Apollo terbukti bisa diandalkan. Dan pendaratan di Bulan menjadi sesuatu yang &#8220;rutin&#8221;\u2014setidaknya bagi para insinyur NASA.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:25px\"><strong>Mengajarkan NASA (dan Kita) tentang Ketenangan dalam Krisis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Insiden petir Apollo 12 adalah&nbsp;<strong>uji nyali paling ekstrem<\/strong>&nbsp;setelah Apollo 1. Roket tersambar petir, komputer mati, alarm berbunyi\u2014tapi kru tetap tenang. John Aaron, 24 tahun, mengingat satu prosedur dari setahun lalu yang menyelamatkan misi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pelajaran:<\/strong>&nbsp;Latihan yang baik, bahkan yang tampaknya tidak penting, bisa menjadi penentu di saat krisis.<\/p>\n\n\n\n<p>Pete Conrad, Alan Bean, dan Dick Gordon adalah tipe astronot yang berbeda. Mereka tidak mencari ketenaran abadi. Mereka tidak mengharapkan parade.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mereka hanya ingin menikmati perjalanan\u2014dan membuat orang tertawa di sepanjang jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari &#8220;Whoopie! That&#8217;s a long one for me&#8221; hingga &#8220;Pete&#8217;s Parking Lot&#8221; dan kekecewaan karena kamera TV rusak\u2014semua itu membuat Apollo 12 begitu&nbsp;<strong>manusiawi<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan mungkin, justru di situlah kebesaran eksplorasi antariksa:&nbsp;<strong>bukan hanya tentang rekor dan statistik, tapi juga tentang tawa, lelucon, dan keberanian untuk tetap santai saat petir menyambar roket Anda.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kepada Pete Conrad (1930-1999):<\/strong>&nbsp;Terima kasih telah mengajarkan kita bahwa menjadi &#8220;pendek&#8221; tidak menghalangi seseorang untuk berdiri di Bulan\u2014dan tetap bercanda di sana.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, para pembaca yang mengira misi kedua itu biasa-biasa saja! Sebelum kita mulai, saya punya pertanyaan jujur: &#8220;Ada yang masih ingat nama astronot Apollo 12 di luar kepala Anda?&#8221; Jujur saja. Kebanyakan orang bisa menyebut Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins dari Apollo 11. Lalu mungkin Jim Lovell dari Apollo 13 yang dramatis itu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,3,2],"tags":[7,6,5,8,9],"class_list":["post-44","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-eksplorasi-antariksa","category-luar-angkasa","category-sains-teknologi","tag-apollo-nasa","tag-eksplorasi-luar-angkasa","tag-misi-bulan","tag-sejarah-antariksa","tag-teknologi-roket"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions\/46"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/45"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasasolutions.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}